Rabu, 29 Oktober 2008

FATMAWATI DALAM DUNIA KOSMOS BENGKULU

FATMAWATI DALAM DUNIA KOSMOS BENGKULU

Prolog
Sejarawan T. Ibrahim Alfian, mengawali pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 12 Agustus 1985, dengan mengambil kalimat singkat dari Ortega, “masa lampau adalah prologue”. Totalitas pengalaman manusia di masa lampau manfaatnya amat berharga dipetik untuk dijadikan bekal menghadapi masa depan yang terentang di hadapan kita .
Sepuluh tahun kemudian, sejarawan Taufik Abdullah naik mimbar kehormatan dalam predikat pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 November 1995. “Pengalaman, Kesadaran, dan Sejarah,” itulah topik centralnya dengan mengutip kalimat Michael Sturner, yang agak keras. “Di negeri yang tanpa sejarah, masa depan masyarakatnya akan dikuasai oleh mereka yang menentukan isi ingatan, serta yang merumuskan konsep dan menafsirkan masa lampau” .
Rupanya, Sartono Kartodirdjo, yang juga disebut sebagai empu nya sejarawan Indonesia pun tak pernah ketinggalan dalam mencermati masalah-masalah yang bersinggungan dengan ilmu sejarah dan kesadaran sejarah. “Maka benarlah ucapan Cicero yang menyatakan, bahwa barang siapa tak kenal sejarahnya, akan tetap menjadi anak kecil”. Dengan bahasa lain, orang yang melupakan masa lampaunya, berarti telah menghilangkan mata rantai kekiniannya, dan selanjutnya akan kehilangan identitas atau jatidirinya. Oleh karena telah kehilangan jatidirinya, maka iapun terlepas dari ikatan norma-norma kehidupan kebudayaan masyarakatnya .
Dan jangan lupa, bahwa jauh sebelumnya, orang Yunani Kuno pun sempat mengeluarkan adagiumnya, “Historia Vitae Magistra” (sejarah adalah guru kehidupan). Tak hanya itu, Bung Karno juga sempat mengingatkan kita tentang “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Bahkan jauh sebelumnya, tepatnya di depan landsraad, Bandung pada tahun 1930, Bung Karno pernah mengajukan pidato pembelaannya yang mengandung unsur dedaktik dari kesadaran sejarah.
Andaipun kalimat-kalimat ampuh tersebut kita sepakati, mampukah kita mengatakan, bahwa kesadaran sejarah adalah sebuah titian, dan sekaligus tolak balak dalam menghadapi segala bentuk tantangan – masalah serius yang menghadang perjalanan hidup bangsa Indonesia. Tentu saja kita mampu mengatakannya, tetapi takkan mampu mewujudkannya. Atau barangkali, tepatnya, ini hanyalah sebuah wacana biasa.
Tetapi sah saja kita mengatakan, bahwa kesadaran sejarah itu amat urgen bagi perjalananan kehidupan umat manusia. Tanpa sebuah kesadaran sejarah, orang tak mampu menangkap manfaat masa lampaunya secara jernih.
Lalu, bagaimana dengan modernitasnya zaman yang kian mengglobal, menjadikan ajang pertarungan antar budaya yang cenderung sengit, dahsyat, sadis, entah apalagi kata yang pas itu itu. Terlebih pertarungan yang tak seimbang antar produk budaya lokal dengan produk budaya luar (baca: asing) dapat berakibat fatal - teralienasi, tererosi, tersingkir, atau bahkan kemudian geheel op (lenyap) ditelan zaman.
Jikalau totalitas produk kebudayaan dan sejarah masyarakat itu telah terkubur oleh arus zaman, bagaimana kita dapat menemukan kembali ? atau bahasa sejarahnya “merekonstruksi” entitas (keseluruhan) identitas - jatidiri masyarakatnya. Tentulah tidak segampang mengumpulkan mainan anak kecil yang berserakan di lantai.
Dan bilamana masyarakat telah kehilangan identitas – jatidirinya, maka sesungguhnya masyarakat tersebut telah mati suri – dengan kata lain, jasadnya ada, tetapi ruhnya terbang melayang. Atau barangkali menurut bahasa Sartono ini cukup pas, yaitu “dekulturasi”. Kata Sartono, “apabila bahaya dekulturasi menjadi sebuah realita, yang ditandai oleh kesimpang-siuran norma-norma, kemerosotan nilai yang terbawa arus modernisasi – maka diperlukan akulturasi – agar dapat membendung erosi kulturalnya” .
Lalu, bagaimana dengan tawaran alternatif yang disebut kesadaran sejarah itu sendiri? Sanggupkah, kita menjelaskan bahwa sebuah kesadaran itu biasanya muncul setelah melalui proses pengetahuan, wawasan dan pemahaman. Sebab, tanpa melalui proses pengetahuan, wawasan, dan pemahaman tentang ilmu sejarah, sulit dipercaya untuk dapat memunculkan sebuah kesadaran sejarah. Kalaupun muncul, hanyalah sebatas kesadaran sejarah yang semu.
Dengan kesadaran sejarah yang tinggi, kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masa lampau dapat dipetik sebagai pelajaran agar tak terulang lagi. Termasuk di dalamnya kesalahan-kesalahan dalam merekonstruksi “history as past actuality” (sejarah sebagai peristiwa masa lampau). Setidaknya, kesalahan-kesalahan sejarawan yang dipaparkan oleh sejarawan Kuntowijoyo secara rinci dapat dijadikan cermin kesadaran sejarah .

Bengkulu Dalam Selintas Sejarah
Secara geografis, Bengkulu termasuk dalam kategori wilayah periferal (pinggiran). Meski masuk dalam kategori periferal, tidaklah cenderung ekslusif ataupun esoteris. Akan tetapi dalam perjalanan sejarahnya, Bengkulu justru menjadi ajang pelarian kaum migran maupun interniran dari berbagai etnis, baik etnis domestik (Bugis, Madura, Jawa, Melayu, Minang, Aceh, Bali, Nias, dan lain-lain), maupun etnis manca (Eropa, Afrika, India, Cina, Persia, Arab, dan lain-lain). Dan mereka (para migran maupun interniran) itu berlatar belakang kelas sosial yang bervariatif. Ada yang dari kelas adel (bangsawan), ambtenaar (pegawai), legger (tentara), handelaar (pedagang), hingga slaven (budak)6.
Setelah terjadi kontak sosial yang cukup intens dengan masyarakat setempat (baca : masyarakat Bengkulu), benturan sosio-kultural pun tak terelakkan. Dan benturan sosio-kultural tersebut telah membawa implikasi proses enkulturasi (pembudayaan) baik secara akulturatif maupun asimilatif dalam kehidupan kebudayaan masyarakat Bengkulu.
Kontak sosio-kultural yang relatif lama membuka kesempatan membangun koloni (perkampungan atau pemukiman) yang namanya sering didasarkan atas geneologis etnisnya, seperti Kampung Melayu, Kampung Kepiri, Kampung Cina, Kampung Bali, Kampung Aceh, Kampung Bugis, Kampung Jawa, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga nama-nama tempat/wilayah menunjukan identitas etnis seperti Kerkap, Manna, Talo dan lain-lain.
Berbagai sebutan, gelar, atau jabatan seperti Pangeran, kalipa, Daing, Radin, Sultan, Pasirah, Pemangku, Pembarab, Depati, Perowatin, Penghulu, Datuk Syabandar, Puggawa Lima, dan lain-lain, yang pernah populer dalam masyarakat Bengkulu juga menunjukkan keragaman corak dari berbagai budaya masyarakatnya.
Tradisi seperti Bimbang (Gedang dan Kecil), Bimbang Malim, Bimbang Melayu, Bimbang Ulu7, Perkawinan Adat Jujur, Samendo, Tabot, dan pranata-pranata, serta bentuk-bentuk ritual yang lain, juga mewarnai keragaman budaya masyarakat Bengkulu.
Dan tentu saja berbagai ragam bahasa, sastra, kesenian, perumahan, pakaian, peralatan, serta wujud fisik lainnya (Rejang, Pasemah, Lembak, Serawai, Melayu, Muko-muko dan lain-lain)8 pun memiliki kontribusi yang sangat berharga dalam memperkaya identitas budaya masyarakat Bengkulu.
Dalam peta sejarah pun membuktikan, bahwa Bengkulu telah melahirkan tokoh-tokoh sejarah patriotik dan dedaktif yang mampu mengukir namanya di panggung sejarah Nasional, bahkan Internasional.
Salah satunya adalah Ibu Fatmawati, yang sudah mengukir namanya dalam panggung sejarah bangsa Indonesia sebagai seorang first lady (ibu negara) Republik Indonesia, dan terlibat langsung dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk mengenal lebih dekat latar belakang kehidupan sosio-kultural Ibu Fatmawati, kita perlu mencermati latar belakang kehidupan kebudayaan masyarakatnya, yaitu kehidupan kebudayaan masyarakat Bengkulu, khusunya dalam perspektif kosmogonis.

Fatmawati dalam Mitos Sang Putri
Dalam perspektif mitos, masyarakat tradisional Bengkulu mempercayai bahwa yang pertama kali mendiami negeri Bangkahoeloe (Bengkulu) adalah Ratu Agung, yaitu seorang raja setengah dewa dari Gunung Bungkuk yang memerintah kerajaan Sungai Serut (kerajaan yang pertama kali di Bengkulu)9
Ratu Agung mempunyai anak tujuh orang, terdiri dari enam anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Nama keenam anak laki-laki yaitu : Radin Cili, Manuk Mincur, Lemang Batu, Rindang Papan, Tajuk Rompong, dan Anak Dalam Muara. Adapun anak perempuannya yang paling bungsu diberi nama Putri Gading Cempaka.
Selanjutnya dikisahkan, bahwa sepeninggal Ratu Agung, si bungsu Putri Gading tumbuh berkembang menjadi seorang putri yang amat cantik, namun tetap dalam kesahajaan, serta halus budi bahasanya. Kecantikan Putri Gading Cempaka yang tiada taranya itu telah menarik perhatian para raja muda yang datang berlomba-lomba untuk meminangnya.
Salah satu diantara raja muda yang jatuh hati pada kecantikan Putri Gading Cempaka adalah Pangeran Muda dari kerajaan Aceh. Oleh sebab itulah Pangeran Raja Muda dari kerajaan Aceh bersama rombongannya datang ke kerajaan Sungai Serut untuk meminang Putri Gading Cempaka.
Namun sayang kedatangan Pangeran Muda dari kerajaan Aceh yang bermaksud untuk meminang itu ditolak oleh Putri Gading Cempaka. Akibat ditolaknya pinangan tersebut, terjadilah perang hebat antara pasukan kerajaan Sungai Serut dengan pasukan kerajaan Aceh.
Kerajaan Sungai Serut diceriterakan hancur akibat peperangan dengan kerajaan Aceh. Putri Gading Cempaka bersama keenam saudara tuanya pun harus meninggalkan kerajaannya dan bersembunyi di Gunung Bungkuk.
Kerajaan Sungai Serut yang sudah hancur dan ditinggalkan oleh penguasanya, kemudian menjadi rebutan para Pasirah (Kepala Suku) Rejang. Ditengah kemuelut perebutan kekuasaan, muncullah Baginda Maharaja Sakti dari kerajaan Pagarruyung. Atas kesepakatan keempat kepala suku Rejang, Maharaja Sakti diangkat menjadi raja di negeri Bangkahoeloe. Putri Gading Cempaka dan keenam saudara tuanya dijemput dari tempat persembunyiannya di Gunung Bungkuk.
Ceritera singkatnya, Baginda Maharaja Sakti menikah dengan Putri Gadng Cempaka. Kerajaan Sungai Serut yang sudah hancur kemudian dibangun kembali oleh Baginda Maharaja Sakti, dan berganti nama Kerajaan Sungai Lemau.
Jika kita cermati, ada pola kemiripan antara kisah perjalanan hidup Fatmawati dengan mitos Putri Gading Cempaka. Dalam Tamboe Bangkahoeloe, Putri Gading Cempaka tercatat sebagai first lady (permaisuri ) Kerajaan Sungai Lemau dan sekaligus menjadi cikal bakal serta tonggak awal keberlangsungan tata kehidupan Kerajaan Sungai Lemau di negeri Bangkahoeloe (Bengkulu).Demikian halnya dengan Fatmawati yang telah tercatat dalam sejarah sebagai fisrt lady (ibu negara) Republik Indonesia.
Kepribadian, karakter, serta teguhnya pendirian yang dimiliki oleh Fatmawati juga tercermin dalam mitos Putri Gading Cempaka. Penolakan Putri Gading Cempaka terhadap pinangan seorang Pangeran Muda dari Kerajaan Aceh merupakan sebuah keberanian yang luar biasa dan jarang terjadi dalam deskripsi kehidupan kaum wanita pada umumnya khususnya dalam konteks masyarakat tradisional.
Dalam perspektif kajian wanita, khususnya pada masyarakat tradisional, kaum wanita sering diposisikan sebagai obyek penderita, pelengkap pasangan hidup yang biasa disebut dengan istilah “dapur, pupur, dan kasur” atau dengan sebutan lain yang punya pengertian sama, yaitu : “masak, macak, manak” . Akan tetapi dalam konteks kajian masyarakat tradisional Bengkulu, ternyata tidak semua memposisikan kaum wanita sebagai obyek penderita 10.
Kisah Putri Gading Cempaka meninggalkan kerajaannya bersama keenam saudaranya menuju ke Gunung Bungkuk dapat diinterpretasikan sebagai sebuah pengembaraan, petualangan, pengalaman, dan sekaligus sebagai sebuah bukti peneguhan prinsip dalam menjalani kehidupan.
Demikian halnya dengan mitos Putri Serindang Bulan. Sebuah legenda dari tanah Rejang (wilayah Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu). Dikisahkan, bahwa Putri Serindang Bulan mampu hidup mandiri selama masa pengembaraan (pembuangan). Di ujung ceriteranya, Putri Serindang Bulan bertemu dengan Raja Inderapura. Dan akhirnya, iapun menjadi first lady (permaisuri) di Kerajaan Inderapura11.

Fatmawati dalam Tradisi Islami Bengkulu
Masuknya ajaran Islam beserta kebudayaannya pada masyarakat Bengkulu yang diperkirakan pada abad ke 16 12 telah membawa implikasi perubahan sosio-kultural masyarakatnya. “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” yang menjadi pedoman dalam hukum adat di Bengkulu merupakan bukti nyata adanya pengaruh kebudayaan Islam yang cukup dominan. Kuatnya tradisi Islami pada masyarakat Bengkulu dapat dilihat melalui banyaknya bangunan seperti masjid, langgar, surau di berbagai tempat perkampungan.
Kuatnya tradisi Islami pada masyarakat Bengkulu tercermin melalui gaya hidup sosok Fatmawati. Sebelum memasuki usia sekolah, Fatmawati kecil ini telah menempa diri dengan “ngaji” belajar agama (membaca dan menulis Al-qur’an) pada sore hari baik kepada datuknya (kakeknya), maupun kepada seorang guru agama, di samping membantu mengurus pekerjaan orang tuanya.
Sudah menjadi tradisi pada masyarakat Bengkulu, bahwa apabila pihak kelapa keluarga tidak sempat mengajari ngaji anaknya, maka anak tersebut diserahkan kepada seorang guru ngaji. Biasanya, penyerahannya disertai dengan seperangkat sirih, sepotong rotan, sebotol minyak tanah, dan secupak beras13.
Semangat untuk belajar agama secara ekstra terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah masih terus dilakukan meskipun sudah mulai memasuki sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada tahun 1930 (Fatmawati, 1978:20-21). Jadwal belajar yang padat dengan pemandangan sehari-hari selalu dijadikannya sebagai bahan ajaran bagi kehidupannya. Bahkan di usia yang masih remaja, atau kalau boleh dibilang masih anak-anak, Fatmawati telah mengalami pencerahan yang cukup matang sehingga mampu melampaui batas-batas nilai kapasitas umumnya anak remaja.
Bibit jati diri dengan prinsip yang teguh dan kokoh, disertai semangat kemandirian yang kuat telah tersemai dalam masa remaja seorang Fatmawati. Pengaruh sosialiasi melalui ajaran dan pengalaman dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosialnya, telah mampu membentuk karakter Fatmawati, menjadi seorang anak yang tidak sekedar patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk potret kehidupan sosio-kulturalnya.
Antara masa sekolah dan masa perjuangan seringkali begitu akrab bergumul dalam entitas waktu. Oleh karenanya, tidaklah menyurutkan semangat bagi seorang Fatmawati ketika harus berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari rumah yang satu ke rumah yang lain, dari satu sekolah ke sekolah yang lain, mengikuti gerak langkah perjuangan ayahnya selaku pucuk pimpinan perserikatan Muhammadiyah di Bengkulu. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman tersebut justru semakin menempa mentalitas kejuangannya. Terlebih setelah mengenal Bung Karno sebagai gurunya (yang kemudian menjadi kekasihnya), Fatmawati yang baru menginjak usia 15 tahun, telah mampu diajak dalam perbincangan dan diskusi mengenai filsafat Islam, hukum-hukum Islam, termasuk masalah gender dalam pandangan hukum Islam. Bahkan Bung Karno sendiri sebagai gurunya telah mengakui kecerdasan Fatmawati14. Karena jiwa, semangat, dan ketajaman berpikir terhadap ajaran agama Islam yang telah menempanya, serta ketajaman menyikapi fenomena sosio-kulturalnya, beliau mampu mengoperasionalisasikan fungsi rasionalitasnya sebagai pengendali dari unsur-unsur emosi yang selalu merangsang dalam setiap detik kehidupan manusia. Maka, ketika Bung Karno menyatakan keinginannya untuk memperistri beliau, meskipun secara emosional beliau juga terpikat kuat oleh Bung Karno, tetapi beliau tidaklah mudah untuk menerimanya begitu saja. Penolakan tersebut, di samping alasan-alasan yang mendasar, juga rasa emphaty terhadap sesama kaum feminis. Dan disinilah seorang Fatmawati telah matang jiwanya, meneguhkan prinsipnya untuk menolak sebuah tradisi yang bernama poligami, yang dianggap sangat tidak menguntungkan bagi kedudukan dan peranan wanita dalam kehidupan sosialnya. Bahkan kalau boleh dibilang, sebelum lahirnya Undang-Undang Perkawinan maupun Peraturan Pemerintah Republik Indonesia khususnya, bagi pegawai negeri, seorang Fatmawati telah mendahului masanya dengan tekad, sikap, dan prinsip anti poligami. Oleh karenanya, sudah sangat patutlah bagi generasi muda sekarang, khususnya kaum wanita, untuk mensyukuri, menghormati, serta meneladani, nilai-nilai perjuangan Ibu Fatmawati terutama terhadap harkat dan maratabat kaum wanita Indonesia.
Jika kita bercermin dari ceriterra-ceritera mitos yang berkembang pada masyarakat tradisional Bengkulu, kita tidak akan pernah menjumpai kisah seorang raja atau pangeran (kepala wilayah) yang memiliki permaisuri atau istri lebih dari satu. Bahkan dalam catatan sejarah disepanjang zamannya sekalipun tidak dijumpai keterangan ada seorang kepala pribumi Bengkulu yang memiliki istri lebih dari satu15. Berbeda dengan kehidupan para raja di Jawa disepanjang sejarahnya. Prinsip poligami justru sering terjadi pada kehidupan para priyayi maupun para raja di Jawa. Bahkan, ada semacam pelegitimasian secara politis, bahwa semakin banyak selir maupun gundik, semakin membuktikan kejayaan, kesaktian, pada diri seorang raja.
Satu hal lagi yang membedakan antara para priyayi ataupun para raja di Jawa dengan para kepala pribumi Melayu, khususnya Bengkulu, adalah mengenai status kekuasaannya. Jika para raja di Jawa mempunyai status sebagai raja yang feodalistis, maka sebaliknya para kepala pribumi di Bengkulu statusnya lebih demokratis.
Oleh karenanya, dalam konteks hubungan sosial yang dibangun antara pemimpin dan pengikut (dalam bahasa budaya Bengkulu, lebih dikenal dengan istilah: antara kalipah dan anak buah), lebih bersifat horizontal-oriented… hubungan yang akrab. Dengan bahasa lain, bahwa kehidupan para kepala pribumi Bengkulu juga tidak jauh berbeda dengan pola kehidupan rakyat pada umumnya. Dan tata kehidupan masyarakatnya lebih mengacu pada tata kehidupan yang sudah diatur dalam hukum adat dan hokum syariat. Oleh sebab itulah, ada peribahasa yang sudah lazim dalam masyarakat Melayu (termasuk masyarakat Bengkulu) : “hukum bersendikan adat, adat bersendikan syariat”.

Fatmawati dan Sang Merah Putih
Perjuangan bangsa Indonesia pada akhirnya telah mencapai titik kulminasi, yaitu dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, 56 Jakarta, oleh Soekarno - Hatta atas nama bangsa Indonesia. Dan bendera Merah Putih pun segera berkibar sebagai wujud simbolis terhadap kebebasan bangsa Indonesia dalam menentukan nasibnya sendiri.
Lalu, siapakah di antara sekian ratus bahkan sekian ribu tokoh pejuang bangsa Indonesia yang telah memikirkan tentang arti sebuah bendera bagi sebuah kemerdekaan bangsa ? Dan kenyataannya selama ini belum pernah ada klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah bendera untuk Kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati. Untuk lebih jelasnya, berikut petikan dari karya tulisan beliau yang berjudul: Catatan Kecil Bersama Bung Karno16
Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku.

Atas dasar petikan tersebut di atas, cukuplah jelas, bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera Merah Putih selama satu setengah tahun yang lalu. Dan di sinilah sebuah fakta telah berbicara, bahwa Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang telah beliau sumbangkan kepada Nusa dan Bangsa Indonesia.

Prinsip Tegas Anti Poligami
Meskipun beliau sudah menjadi first ladynya Indonesia, jati-diri yang sudah lama tertanam sejak masih remaja, masih tetap merekat kuat, tidak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. Kepribadiannya yang kokoh dengan dilandasi oleh kesederhaannya yang tanpa pamrih, memang sulit untuk diterjemahkan, tetapi akan menjadi jelas bila dipahami melalui beberapa fakta sejarah. Misalnya, ketika beliau akan mendampingi Bung Karno melawat ke luar negeri (India dan Pakistan), beliau terpaksa harus meminjam atau dipinjami perhiasan milik istri Sekretaris Negara (hlm. 172). Hal tersebut membuktikan, bahwa kehidupan beliau sebagai Ibu Negara jelas tidak mencerminkan pola kehidupan yang glamour, tetapi justru lebih menunjukkan kesederhaan dan keprasajaan. Dan hendaknya dipahami pula, bahwa dasar peminjaman sebuah perhiasan tersebut bukanlah untuk glamour ataupun pamer, tetapi semata karena posisinya sebagai Ibu Negara yang akan bertemu dengan tuan rumah dari negera lain, maka harus saling menghormati (seperti pepatah Jawa mengatakan: “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”).
Semangat juang yang gigih dan tangguh serta ketabahan beliau yang luar biasa baik selama perang kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan pun takkan pernah pudar. Keimanan serta ketabahan beliau kembali teruji, bahkan kali ini yang mengujinya bukan siapa-siapa, melainkan presidennya sendiri, Bung Karno, suami tercinta yang dikaguminya. Suatu hari, tepatnya pada tanggal 15 Januari 1953 (dua hari setelah beliau melahirkan anak yang kelima, yang bernama Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra), tiba-tiba Bung Karno menyatakan keinginannya untuk kawin lagi. Dengan perasaan yang tabah, beliaupun menjawab: “boleh saja, tapi Fat minta dikembalikan pada orang-tua. Aku tak mau dimadu dan tetap anti poligami”(hlm. 175). Dan di tahun 1954 krisis rumah tangga beliau semakin memuncak. Demi mempertahankan harga diri dan tetap berprinsip anti poligami, maka beliau bertekad meninggalkan istana, berpisah dengan suami dan anak-anaknya yang dicintainya, meskipun Bung Karno tidak mengizinkannya untuk meninggalkan istana (hlm. 267). Sungguhlah tidak bisa kita bayangkan, betapa tulus pengabdian beliau kepada seorang suami yang sekaligus seorang presiden, dan betapa besarnya pengorbanan beliau selama masa perjuangan baik sebelum kemerdekaan maupun pasca kemederkaan bangsa Indonesia, yang kemudian harus menjalani kehidupan seorang diri, benar-benar “sepi ing pamrih”.






















DAFTAR PUSTAKA

Adams, Cindy. 1966. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Alih bahasa: Mayor Abdul Bar Salim). Jakarta: Gunung Agung.

Abdullah, Taufik, 1995. Pengalaman, Kesadaran, dan Sejarah. Pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 November 1995.

Alfian, T. Ibrahim, 1985. Sejarah dan Permasalahan Masa Kini. Pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 12 Agustus 1985.

______________(ed.,). 1987. Dari Babad dan hikayat sampai Sejarah Kritis. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Fatmawati, 1978. Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno. Jakarta: Sinar Harapan.

Delais. H. & Hassan, J. 1933. Tambo Bangkahoeloe. Batavia Centrum.

Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historigrafi Indonesia Suatu Alternatif. Jakarta : Gramedia.
_____________, 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Pangeran Muhamad Shah, 1859. Bahoewa Inilah Asal Oesoel. Bataviaasch Genoot-schap, ML. 143, Latijn-schrift, dan ML. Arab Maleisch-schrift, gedat:

Setiyanto, Agus, 1998. Wanita dan Tradisi : Kedudukan dan Peranan Wanita dalam Sistem Perkawinan Adat Jujur di Bengkulu pada Abad XVIII-XIX. Bengkulu : Balai Penelitian Universitas Bengkulu.
______________, 2001. Elite Pribumi Bengkulu Perspektidf Sejarah Abad ke 19. Jakarta: Balai Pustaka.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda